Minggu, 04 Desember 2011

Semua Kalangan Bingung Terapkan Pancasila

JAKARTA - Budayawan Radhar Panca Dahana menilai, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak punya ide untuk menerapkan arti Pancasila yang dinilai banyak kalangan bermasalah saat ini. Menurutnya, Pancasila sudah bermasalah sejak dilahirkannya. Radhar menilai, tidak hanya masyarakat yang bingung dengan makna Pancasila, perumusnya pun  bingung.

"Bukan pada masa reformasi saja, tetapi pada masa Soeharto juga terjadi masalah, jaman Soekarno pun Pacasila terjadi kesulitan. Bisa dikatakan, sejak Pancasila lahir, Soekarno bingung  menerapkan sila-sila yang dibuat sama teman-temannya itu sendiri," ujar Radhar dalam diskusi bertajuk Pancasila di Warung Daun, Cikini, Jakarta, Sabtu (4/6).

Presiden SBY sendiri, lanjutnya, selalu berbicara dalam tataran normatif ketika menyinggung soal Pancasila. "Jwabanya selalu normatif. Jawabannya gak ada, dia (Presiden SBY, red) gak punya ide," kata Radhar

Menurut Radhar, sebenarnya Pancasila itu tidak bisa dijadikan panduan hidup di negeri ini karena belum mampu dijabarkan menjadi pegangan bangsa Indonesia.

"Bukan perumusan masalahnya. Aplikasi itu yang masalahnya, kita hidup hanya memandang slogan. Apakah kita tahu arti setiap sila dalam Pancasila?. Kita yang harus menjawabya," ujarnya.

Hal senada juga dikatakan perwakilan aktivis muda, Melki Lakalena. Menurutnya, sejak Pancasila lahir itu, prokontra sudah terjadi. Namun diakui, secara tidak langsung Pancasila bisa membuat persatuan di negeri ini.

"Tanpa Pancasila itu kita sudah pecah, Pancasila menyelesaikan agama. Siapapun pemimpim masyarakat, ketika melupakan Pancasila maka terjadi masalah," katanya.

Rabu, 19 Oktober 2011

Amalkan Nilai Pancasila


Padang, Padek—Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila mesti menjadi panutan dan acuan dalam bersikap dan berbangsa bagi warga negara Indonesia. Kondisi bangsa hari ini, menuntut pengamalan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, sehingga bangsa Indonesia tetap bersatu dalam menjaga keutuhan NKRI.

Demikian harapan yang muncul dalam peringatan Hari Kesaktian Pancasila tahun ini. Peringatan Hari Kesaktian Pancasila di jajaran Pemprov Sumbar diperingati dengan melaksanakan upacara bendera di lapangan Kantor Gubernur Sumbar. Bertindak selaku instruktur upacara, Wakil Gubernur, Muslim Kasim. Hadir, unsur Muspida serta PNS di lingkungan Pemprov.

“Melalui peringatan Hari Kesaktian Pancasila ini, kita berharap masyarakat meningkatkan pengamalan nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara dalam kehidupannya. Apalagi suasana Hari Kesaktian Pancasila bersamaan dengan peringatan dua tahun gempa Sumbar. Melalui pengamalan nilai-nilai Pancasila ini menyatukan rakyat Sumbar hendaknya dalam upaya bangkit kembali pascagempa,” kata Wagub.

Asmaul Husna
Sementara itu di Kota Padang, peringatan Hari Kesaktian Pancasila disemarakkan dengan pembacaan Asmaul Husna oleh ratusan murid SD.  Pembacaan Asmaul Husna ini dipimpin langsung Wali Kota Padang, Fauzi Bahar di Terminal Regional Bengkuang (TRB). Hadir, pelajar se-Kota Padang, unsur Muspida, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan para pejuang.

“Dengan mengumandangkan Asmaul Husna, diharapkan berbagai marabahaya yang akan menimpa Kota Padang menjadi jauh. Serta semakin menguatkan iman dan takwa masyarakat kepada Allah. Ternyata program Pemko Padang dalam bidang keagamaan yang sudah dilaksanakan sejak 7,5 tahun lalu telah membuahkan hasil, karena hampir seluruh siswa SD, SLTP dan SLTA di Kota Padang hafal Asmaul Husna dan ayat-ayat pendek,” ujar Fauzi Bahar.

Dikatakan Fauzi, di tengah kondisi masyarakat saat ini yang dikoyak ideologi radikalisme, peringatan Hari Kesaktian Pancasila merupakan suatu hal yang sangat penting untuk dimaknai. Ini saatnya seluruh elemen masyarakat kembali menggali dan memaknai Pancasila sebagai ideologi bangsa, dasar hukum dan pandangan hidup. Bila tahun 1965, Pancasila dapat membuktikan kesaktiannya dengan menggagalkan sebuah rencana mengganti ideologi bangsa dengan ideologi komunisme. Maka, sekarang hal yang sama harus dipertahankan, Pancasila harus bangkit kembali untuk menangkal ideologi radikal yang saat ini merongrong bangsa.

“Mari tegakkan dan amalkan Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita tidak ingin lagi peristiwa G 30 S/PKI atau sejenisnya muncul lagi. Mari rapatkan barisan guna menangkal berbagai upaya yang bisa merusak persatuan dan kesatuan bangsa. Jangan sekadar seremonial,” ungkapnya.

Selain itu, kata Fauzi, pendidik di Kota Padang harus menanamkan sejak dini nilai- nilai ideologi negara dan kejuangan kepada anak didiknya, baik melalui pendidikan formal dari SD sampai perguruan tinggi maupun melalui pendidikan non formal lainnya. Termasuk menanamkan arti kebersamaan dalam bingkai NKRI.

“Saya yakin, dengan ditanamkannya nilai-nilai tersebut pada generasi muda, rasa cinta tanah air dan bela negara akan semakin kuat terpatri dalam hati mereka. Sehingga pengaruh radikalisme yang muncul tersebut, tidak merusak rasa nasionalisme di hati generasi muda. Untuk itu sejak dini, nilai- nilai ideologi negara dan kejuangan harus ditanamkan oleh para pendidik,” tandasnya. (ayu/mg10)

Massa FBR Bakar Pos Pemuda Pancasila






Liputan6.com, Depok: Puluhan anggota Forum Betawi Rempug atau FBR membakar pos Pemuda Pancasila (PP) di Jalan Arif Rahman Hakim, Depok, Jawa Barat, Ahad (31/7) siang. Dengan membawa samurai, celurik, golok, dan senjata tajam lainnya, massa FBR ini bertindak anarkis. Polisi pun tak bisa berbuat banyak menghadapi aksi itu.

Tidak ada korban jiwa dalam aksi ini. Diduga, aksi ini dipicu pengrusakan posko FBR di Jalan Nusantara, Depok, dini hari tadi. Hingga kini, polisi belum dapat dikonfirmasi penyebab pasti pembakaran pos Pemuda Pancasila.(BOG)

sejumlah tokok peringati hari kesaktian pancasila


Liputan6.com, Bogor: Guna memperingati Hari Kesaktian Pancasila, sejumlah tokoh agama dan politisi mendeklarasikan pentingnya kembali ke Pancasila sebagai dasar negara di Bogor, Jawa Barat, Ahad (1/10).

Dalam deklarasi itu para tokoh berpendapat lunturnya nilai-nilai Pancasila dianggap sebagai salah satu sebab tumbuhnya radikalisme dan kesewenang-wenangan atas nama agama. Karena itu pada momentum peringatan Hari Kesaktian Pancasila para tokoh agama dan politisi menegaskan kembali Pancasila sebagai ideologi yang mempersatukan bangsa Indonesia.

Selanjutnya kegiatan dilanjutkan dengan mengunjungi Gereja Taman Yasmin yang tetap tidak boleh digunakan untuk tempat beribadah meski mereka memiliki izin. Para tokoh pun meminta keberagaman harus dihargai sebagai bentuk manifestasi Pancasila di masa mendatang.

Ketua Gerakan Pemuda Ansor Nusron Wahid mengatakan kunjungan itu sebagai aksi solidaritas, karena tindakan Wali Kota Bogor dinilai sewenang-wenang dan diskriminatif terhadap minoritas, mengingat Mahkamah Agung (MA) telah memutuskan agar pembekuan IMB dicabut.

Beberapa tokoh yang hadir dalam deklarasi itu di antaranya mantan Ibu Negara Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD, Ketua Komnas HAM Ifdhal Kasim, mantan Menteri Pertanian Bungaran Saragih, Romo Benny Susetyo dan sejumlah organisasi kepemudaan, seperti HMI, GMKI, PMII, dan GMNI.

Di Klaten, Jawa Tengah, sebuah sekolah dasar terus memperkenalkan Pancasila sejak dini. Hal ini dilakukan dalam berbagai bentuk aktivitas yang mudah dimengerti anak-anak.

Sementara itu, sejumlah tokoh dan warga memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Monumen Pahlawan Pancasila, Sleman, Yogyakarta. Di monumen ini dua jenazah Pahlawan Revolusi Brigjen Katamso dan Kolonel Sugiyono yang dibunuh PKI ditemukan. Mereka pun menegaskan jika ingin bangsa ini utuh, maka Pancasila adalah jawabannya.(ADI/ADO)